Dulu gue pikir jadi freelancer itu enak banget. Nggak ada bos, bisa kerja jam berapa aja, dan yang paling penting: nggak perlu macet-macetan di jalan. Kenyataannya? Setelah setahun jalan, gue mulai ngerasain hal yang nggak pernah gue antisipasi. Jenuh. Bosen. Dan yang paling parah: ide-ide gue mulai kering.
Setiap hari rasanya sama. Buka laptop, cek email, kerjain brief, kirim invoice, tidur. Ulang lagi besoknya. Ada satu titik di mana gue ngerasa hidup gue cuma berputar di sekitar layar dan deadline. Nggak sehat, dan gue yakin kamu yang juga freelancer pasti pernah ngerasain hal serupa.
Momen Nggak Terduga yang Mengubah Rutinitas
Suatu sore, gue nemu gitar lama punya kakak gue di gudang. Debu tebal, senarnya udah pada kendor, tapi masih bisa dipetik. Iseng-iseng gue bersihin, dan sejak hari itu gue mulai mainin. Nggak serius, nggak les, cuma modal nonton tutorial di YouTube sambil nyoba-nyoba sendiri.
Baca juga: Pensiunan Waspada: 7 Tanda Hobi Musikmu Mulai Jadi Beban
Awalnya cuma buat ngisi waktu luang di sela nunggu revisi dari klien. Tapi lama-lama, gue ngerasa ada yang berubah. Bukan cuma soal jago main gitar, tapi soal gimana otak gue bekerja. Ada sensasi "fresh" yang susah gue jelasin. Dan ternyata, ini bukan cuma perasaan gue doang.
Otak Freelancer Itu Butuh "Liburan" yang Beda
Ini yang gue sadari setelah beberapa bulan rutin main musik. Waktu kita kerja, otak kita dipaksa fokus ke satu hal: menyelesaikan pekerjaan. Logika, analisis, dan struktur. Itu semua pakai sisi otak yang sama terus-menerus, dan hasilnya ya capek.
Main musik itu melibatkan hal yang beda. Kamu nggak mikir "apakah chord ini logis", kamu ngerasain. Kamu dengerin, kamu improvisasi, kamu bikin kesalahan dan langsung benerin. Prosesnya intuitif. Dan buat gue, ini semacam reset otak yang nggak bisa gue dapetin dari scrolling media sosial atau nonton series.
"Setelah main gitar setengah jam, gue balik ke laptop dengan kepala yang jauh lebih jernih. Kayak habis tidur siang, tapi versi yang lebih produktif."
Ada hari di mana gue bener-bener stuck ngerjain desain. Udah ganti font, ganti warna, tetap aja nggak sreg. Terus gue ambil gitar, mainin beberapa lagu lama. Setelah itu balik ke layar, dan boom — idenya muncul. Nggak selalu begitu, tapi cukup sering buat gue percaya kalau ini bukan kebetulan.
Nggak Perlu Mahal, Nggak Perlu Jago
Ini poin yang penting banget buat kamu yang mungkin mikir "ah, belajar musik itu ribet dan mahal". Nggak. Gue mulai dari gitar butut yang udah nggak dipakai. Kalau kamu nggak punya alat musik sama sekali, ada banyak pilihan murah: ukulele, keyboard mini, atau bahkan aplikasi musik di HP.
Yang lebih penting: kamu nggak perlu jadi jago. Ini bukan kompetisi. Tujuan awalnya cuma satu — ngasih otak kamu "mainan" baru yang nggak ada hubungannya dengan pekerjaan. Justru karena nggak dituntut sempurna, prosesnya jadi menyenangkan.
- Mulai dari yang paling gampang. Nggak perlu langsung belajar teori musik. Cukup pelajari 3-4 chord dasar dan mainin lagu favorit.
- Jangan pasang target tinggi. Kalau kamu mulai dengan ekspektasi "harus bisa dalam sebulan", kamu bakal cepat nyerah dan stres sendiri.
- Jadikan bagian dari rutinitas santai. Buat gue, main musik itu ritual sore sebelum balik kerja lagi. Nggak wajib, tapi kalau kelewat, rasanya ada yang kurang.
- Rekam diri sendiri. Ini lucu-lucuan doang, tapi ngeliat progress dari rekaman lama bikin semangat naik lagi.
Hobi yang Nggak Harus Menghasilkan Uang
Ini pelajaran yang gue dapat dan mungkin paling berharga. Sebagai freelancer, kita sering tergoda buat mengubah semua hal jadi sumber penghasilan. Hobi pun kadang dipikir "bisa nggak ya dijadiin side hustle?". Padahal nggak semua hal harus produktif secara finansial.
Musik buat gue adalah ruang di mana gue nggak dituntut menghasilkan apa-apa. Nggak ada klien, nggak ada target, nggak ada feedback. Justru di ruang tanpa tekanan itulah kreativitas gue balik lagi dengan sendirinya. Ironis, tapi nyata.
Efek Samping yang Nggak Gue Duga
Setelah sekitar setahun main musik, ada beberapa perubahan yang gue rasain di kerjaan freelancer gue. Pertama, gue jadi lebih sabar. Belajar alat musik itu prosesnya lambat, dan itu ngelatih mental gue buat nggak buru-buru. Kedua, gue jadi lebih berani ambil risiko kreatif di proyek-proyek gue. Mungkin karena udah terbiasa improvisasi dan gagal di alat musik, jadi nggak terlalu takut salah di kerjaan.
Ketiga — dan ini yang paling sederhana — gue jadi punya sesuatu buat diceritain selain kerjaan. Waktu ngobrol sama klien atau temen, gue nggak cuma bisa bilang "lagi sibuk ngerjain proyek A". Ada dimensi lain dalam hidup gue yang bikin gue terasa lebih manusia, bukan cuma mesin kerja.
Kalau kamu freelancer dan ngerasa mulai jenuh, coba deh pertimbangkan satu alat musik. Nggak harus gitar, nggak harus mahal, dan nggak harus serius. Kadang yang kita butuhin bukan liburan mahal atau gadget baru, tapi sekadar ruang buat bermain tanpa tuntutan. Dan buat gue, ruang itu ternyata ada di enam senar yang udah berdebu di gudang.