Sabtu, 24 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
66emart.com66emart.com
66emart.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Kenapa Freelancer Justru Butuh Gitar di Sudut Ruan...

Kenapa Freelancer Justru Butuh Gitar di Sudut Ruangan?

Sebagai freelancer, waktu luang sering jadi pedang bermata dua. Ini cerita gue soal gitar dan hobi musik yang nyelametin hari-hari sepi.

Kenapa Freelancer Justru Butuh Gitar di Sudut Ruangan?

Ada satu benda di sudut ruangan kerja gue yang sering bikin tamu heran: sebuah gitar akustik lusuh, catnya udah ngelupas di bagian leher. Bukan gitar mahal, bukan koleksi. Cuma gitar yang gue beli lima tahun lalu dari temen yang butuh duit. Tapi benda ini yang bikin gue bertahan jadi freelancer sampai sekarang.

Gue mulai sadar sesuatu waktu suatu sore, deadline udah kelar jam dua, dan tiba-tiba gue bengong depan laptop. Nggak ada meeting, nggak ada klien yang nanya revisi. Kosong. Dan kosong itu, buat freelancer, kadang lebih bikin stres daripada kerja rodi.

Baca juga: Hobi Kreatif Bermusik: Cara Seru Mengisi Waktu Luang

Waktu luang freelancer itu aneh

Orang kantoran mungkin iri sama kita. "Enak ya bisa ngatur waktu sendiri." Iya, bener. Tapi mereka nggak lihat sisi lain: jam tiga sore di hari Selasa, ketika semua temen lo lagi sibuk di kantor, dan lo sendirian di kamar dengan teh yang udah dingin. Nggak ada yang bisa diajak ngobrol. Nggak ada yang nanya "udah makan?"

Di titik itu, gue sering terjebak dua pilihan buruk. Pertama, buka HP dan scroll sampai mata perih, ngerasa produktif padahal cuma lihat kehidupan orang lain. Kedua, maksa kerja terus sampai burnout, karena merasa "kalau nggak kerja sekarang, kapan lagi?"

Baca Juga: 777gi.net

Dua-duanya nggak sehat. Dan gue baru sadar, yang gue butuhin bukan disiplin lebih keras. Yang gue butuhin adalah sesuatu yang bisa gue sentuh, yang nggak ada hubungannya sama uang.

Gitar itu jadi tombol "off"

Suatu hari gue ambil gitar itu, duduk di lantai, dan mainin chord yang gue hafal dari SMA. Suaranya fals, jari gue kaku, tapi ada sesuatu yang aneh: otak gue berhenti berisik. Nggak ada notifikasi, nggak ada to-do list, nggak ada klien yang minta "revisi minor" yang ternyata bukan minor.

Sejak itu, gue bikin aturan nggak tertulis. Setiap kali selesai satu proyek besar, gue wajib main gitar minimal sepuluh menit sebelum buka email lagi. Bukan buat jadi musisi. Bukan buat bikin konten. Cuma buat ngasih jeda ke kepala gue sendiri.

Hobi kreatif yang paling berguna buat freelancer bukan yang bisa dijual. Justru yang nggak ada hubungannya sama kerja.

Ini pelajaran yang gue dapat dengan susah payah. Dulu gue sempat mikir, "ah, main gitar mah buang-buang waktu, mending belajar skill baru yang bisa nambah penghasilan." Dan setiap kali gue mikir gitu, gue jadi makin cemas, makin nggak bisa fokus, dan kerjaan malah berantakan.

Yang nggak perlu lo kuasai

Gue bukan gitaris. Gue nggak bisa solo, nggak hafal teori musik, dan sering lupa lirik lagu sendiri. Tapi justru itu poinnya. Karena gue nggak punya target, gue nggak bisa gagal. Nggak ada standar yang harus dicapai. Nggak ada klien yang bisa bilang "kurang nendang".

Banyak freelancer yang gue kenal nggak berani mulai hobi baru karena mikir harus langsung bagus. Padahal hobi itu justru tempat paling aman buat jadi payah. Di dunia kerja lo dituntut profesional. Di hobi, lo boleh amatir seumur hidup.

Ritme kecil yang nyelametin hari

Gue nggak main gitar tiap hari. Kadang seminggu cuma dua kali. Tapi yang penting, gitar itu ada di tempat yang kelihatan. Bukan di dalam lemari, bukan di kardus. Karena kalau nggak kelihatan, dia nggak akan pernah dipetik.

Ada beberapa hal kecil yang gue pelajari dari kebiasaan ini, dan kayaknya relevan buat kamu yang juga kerja lepas:

  • Pisahkan alat kerja dan alat main. Laptop buat kerja, gitar buat ngaso. Jangan campur. Ini bikin otak tahu kapan harus tegang dan kapan harus santai.
  • Jangan ukur hobi pakai hasil. Begitu lo mulai mikir "bisa jadi side income nggak ya", hobinya berubah jadi kerjaan kedua. Dan lo kehilangan satu-satunya tempat pelarian.
  • Bikin hambatannya sekecil mungkin. Gitar di sudut ruangan, bukan di gudang. Kalau perlu effort buat mulai, lo nggak akan mulai.
  • Terima kalau lo bakal jelek. Nggak apa-apa. Justru bagus. Lo butuh satu area hidup di mana lo nggak dituntut kompeten.

Ada satu momen yang gue inget banget. Suatu malam, setelah nolak proyek yang sebenernya gue butuh duitnya karena kliennya nyebelin, gue duduk di lantai dan mainin lagu lama sampai jam sebelas. Nggak ada yang berubah secara materi. Besoknya gue masih harus cari klien baru. Tapi malam itu, gue nggak ngerasa sendirian.

Buat kamu yang ngerasa "nggak berbakat"

Kalau kamu baca ini dan mikir "gue nggak bisa main musik", tenang. Gue juga nggak bisa, dalam artian yang beneran. Tapi itu bukan syaratnya. Yang lo butuhin cuma satu hal yang bisa lo pegang dan lo mainin tanpa mikir untung rugi.

Bisa gitar, bisa ukulele murah, bisa keyboard bekas, bisa juga bukan musik sama sekali. Intinya, freelancer butuh satu sudut di hidupnya yang nggak bisa diukur pakai invoice. Karena kalau semua yang lo lakuin harus menghasilkan sesuatu, lama-lama lo yang habis.

Gitar lusuh di sudut ruangan itu masih di sana. Catnya makin ngelupas. Tapi selama dia masih dipetik sesekali, gue tahu gue masih jadi manusia, bukan cuma mesin yang nunggu bayaran masuk.

Tags: freelancer hobi musik waktu luang hobi kreatif main gitar